MENGENAL JENIS-JENIS KAMERA (BAGIAN 2)


Photograph Coach Clinic

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, fotografi telah berkembang sangat cepat. Hal ini senada dengan perkembangan teknologi dan informasi di dunia, di mana penemuan-penemuan baru terus bermunculan dan membuat kinerja sera aktifitas manusia lebih mudah dan efisien. Kamera pun ternyata juga mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Sejak kamera analog menguasai dunia fotografi, banyak orang  tertarik dengan aktifitas ambil gambar ini. Melihat hal ini, perusahaan produsen kamera pertama, Kodak Eastmen, akhirnya terus berinovasi dan memproduksi kamera jenis analog. Kesuksesan perusahaan tersebut kemudian memacu perusahaan lain untuk turut meramaikan pangsa pasar kamera. Tentu saja kamera analog menjadi satu-satunya kamera yang dijadikan objek produksi.

Kakek Kodak, founder Kodak Corp

Kakek Kodak, founder Kodak Corp

Lambat laun, orang merasa bahwa kamera analog memiliki banyak sekali kekurangan, terutama pada proses pencucian filmnya. Alhasil mulai muncul ide untuk menciptakan sebuah kamera yang mampu mengambil gambar sekaligus mencetak gambar itu seketika. Itulah awal dari kelahiran kamera polaroid.

Polaroid Jadul

Polaroid Jadul

Kamera polaroid sering juga disebut kamera langsung cetak. Kamera jenis ini memiliki kemampuan untuk mencetak sendiri citra yang sudah diambil di atas sebuah kertas film khusus yang diberi nama film  polaroid. Sedangkan untuk film polaroid yang berwarna disebut sebagai film polacolour.  Jadi berbeda dengan kamera analog, kamera polaroid tidak memiliki negatif film. Tinggal sorot, jepret dan cetak seketika.

Harus diketahui, bahwa sebenarnya polaroid adalah sebuah merek dagang, sama seperti Fujifilm atau Canon. Tetapi karena dianggap sebagai pendobrak, polaroid kemudian berubah menjadi sebuah definisi dari jenis kamera yang mampu mencetak gambar seketika di atas kerta foto.

Lalu siapakah jenius yang menciptakan lompatan besar beruapa kamera polaroid ini? Dia adalah Edwin Land. Penemuan Mr. Land pada tahun 1947 tersebut kemudian berkembang sangat pesat, walau masih belum mampu menggeser si  nyonya tua, kamera analog. Lain waktu akan dibahas lebih lanjut mengenai sejarah dan perkembangan kamera. Karena, kali ini kita akan langsung melompat pada jenis kamera yang terakhir sekaligus yang paling modern, kamera digital.

Si Jenius Edwan Land

Si Jenius Edwan Land

Benar-benar tanpa film

Jika dua kamera terdahulu mutlak membutuhkan film, entah itu negatif/klise ataupun film polaroid, kini generasi terbaru kamera benar-benar tidak membutuhkannya. Kamera digital adalah jenis kamera yang mampu mengambil serta menyimpan gambar dalam bentuk file digital. Nantinya file digital ini bisa disimpan di memory drive, bisa MMC atau SD Card.

Contoh kamera digital

Contoh kamera digital

Kamera digital pertama di muka bumi dipercaya dibuat oleh perusahaan kawakan Kodak pada tahun 1990. Sesaat sebelum munculnya kamera digital, muncul  istilah megapixel. Istilah ini merujuk kepada kemampuan sebuah kamera digital untuk merekam gambar. Dahulu, sebuah kamera dengan kekuatan 5 megapixel sudah sangat dipuja. Kini, kamera yang ada di dalam handphone saja ada yang memiliki kemampuan hingga 12 megapixel.

Sekarang, kita akan membahas beberapa jenis atau varian dari kamera digital yang sudah banyak beredar di pasaran.

1.       Kamera saku

kamera saku nan imut

kamera saku nan imut

Ini adalah jenis kamera paling populer saat ini. Pabrikannya juga bukan melulu didominasi oleh perusahaan kawakan macam Fuji, Kodak, Canon, Nikon atau Leica. Di beberapa negara Asia, terutama China dan Korsel, sudah banyak pabrikan produsen kamera digital dengan harga beli yang lebih terjangkau masyarakat, semacam Sunny, Brica, atau Braun. Kelebihan dari kamea saku adalah murah, handy, ringkas, tidak perlu terlalu rumit serta lebih mudah perawatannya. Tetapi jika anda menginginkan hasil foto yang berkualitas, kamera jenis ini tidak terlalu banyak membantu. Mengapa? Selain karena megapixelnya kecil, kamera ini tidak terlalu handal untuk memotret di sebuah kondisi yang minim cahaya. Lagipula, kamera ini benar-benar hanya mengandalkan lensa bawaan pabrik, sehingga anda tidak memiliki kesempatan bermain lensa-lensa yang lain. Tetapi bila anda kreatif serta tak mudah putus asa, jangankan kamera saku, kamera handphone pun bisa menghasilkan karya yang membuat semua orang berdecak kagum.

 2.       Prosumer

Prosumer paling gokil,sangat recomended

Prosumer paling gokil,sangat recomended

Kamera prosumer adalah sebuah transisi dari kamera saku dan kamera DSLR. Bentuk fisiknya lebih mirip kamera DSLR dan cukup kokoh. Beberapa merk, seperti FUJI generasi FINEPIX sudah memiliki viewfinder atau lubang intip untuk mata anda. Sedang yang lain, bahkan Canon dan Nikon, kebanyakan hanya menyedian layar LCD sebagai penampil citra. Harga kamera prosumer bervariasi, mulai dari 1,8 juta hingga 4 juta rupiah. Fasilitasnya cukup lengkap dan zoomnya jelas lebih baik dari kamera digital. Walau begitu, kamera jenis ini juga tidak memungkinkan penggunanya untuk bermain lensa. Lensa mati atau lensa primer bawaan pabrik menjadi satu-satunya senjata untuk mengambil gambar. Zoomnya juga tidak terlalu baik, walau untuk sekedar hobi sudah sangat lebih dari cukup. Sangat disarankan untuk memakai kamera ini jika memang hanya sekedar hobi, karena selisih harganya cukup besar dengan kamera DSLR.

 3.        DSLR

Walau mulai banyak yang memakai DSLR, tetapi sebenarnya tidak semua tahu apa arti dari singkatan tersebut. Anda adalah orang yang sangat beruntung, karena begitu membaca artikel ini, anda tahu bahwa DSLR adalah singkatan dari Digital Singel Lens Reflex. Ini adalah senjata wajib bagi para profesional.

Lok ngaku Tajir, boleh deh beli EOS

Lok ngaku Tajir, boleh deh beli EOS

Begitu anda diperlengkapi dengan ini, jangan khawatirkan mengenai shutter lag atau jeda antara saat anda memencet tombol capture/rana dengan saat kamera mengambil gambar. Kemampuan zoomnya juga ciamik. Hebatnya, anda bisa mengganti-ganti lensanya, tergantung kebutuhan anda. Anda bisa memakai lensa makro, yang bisa memotret lalat yang yang hingga di remah-remah roti, atau para pemain bola yang sedang menggiring bola di lapangan dari tribung paling atas.

Itulah pembahasan kita kali ini mengenai kamera polaroid dan kamera digital. Pada pembahasan selanjutnya kita akan bertemu dengan beberapa istilah dalam dunia perkameraan, seperti ISO, rana, Aperture, dan kawanannya. Jika anda merasa rubrik ini bermanfaat, silahkan memberi komentar atau menempelkan di dinding facebook atau blog anda. Sampai bertemu di pembahasan berikutnya, salam Ouchziner!

Iklan

Mengenal Jenis-Jenis Kamera (Bagian-1)


Photograph Coach Clinic

Dewasa ini, fotografi telah berkembang dengan sangat pesat. Jika dahulu kegiatan yang melibatkan potret-memotret ini cenderung dianggap sebagai sebuah kegiatan kaum berduit, maka sekarang semua orang bisa dengan mudah melakukannya. Hal ini tidak lain adalah karena semakin terjangkaunya harga kamera. Harga kamera yang terjangkau ternyata juga dibarengi oleh peningkatan kualitas serta variasi yang beragam.

Untuk edisi pertama dari PCC atau Photograph Coach Clinic ini, kita akan membahas mengenai barbagai jenis kamera yang ada di pasaran. Apa manfaat dari itu semua? Selain untuk menambah wawasan, mengetahui jenis dan spesifikasi kamera sangat penting, untuk menentukan kamera jenis mana yang sebaiknya anda beli.

Tapi sebelum itu, ada baiknya kita membahas mengenai orientasi dari kegiatan mengambil gambar yang ada di tengah masyarakat. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada uraian berikut:

Fotografi sebagai kegiatan komersil

Kegiatan fotografi jenis ini jelas berorientasi pada fee atau uang. Jangan salah, selain menyenangkan dan membuat anda tampak lebih trendy, foto hasil karya anda juga dapat menambah pundi-pundi uang saku anda. Di edisi lain, akan kita bahas foto seperti apa, situs mana serta bisnis fotografi apa yang mungkin bisa digeluti untuk menambah rupiah (atau bahkan dolar).

Fotografi sebagai hobi sampingan

Sudah hobi, sampingan pula. Maksudnya, kegiatan ini hanya untuk refreshing, alias membunuh jenuh. Banyak sekali anak muda yang menenteng Canon IOS atau Nikon keluaran terbaru tetapi lebih sering dikalungkan di leher daripada digunakan sesuai kodratnya, mengambil gambar. Ini tidaklah salah, justru dengan orientasi yang iseng-iseng berhadiah seperti ini, nantinya dunia fotografi akan berkembang. Mungkin bisa ditanyakan kepada tante Vica Rusmanovska di rubrik KCK, apakah jenis kamera juga mempengaruhi daya tarik seksual. Tapi saya rasa tidak terlalu.

Fotografi sebagai pelampiasan hasrat seni

Jikalau sudah berbicara masalah seni, maka akan sedikit kompleks. Ada yang rela menjelajah hutan Afrika, menyelam di kedalaman laut Pasifik, menelusuri Kutub Selatan atau mendaki puncak Bromo demi mendapat gambar yang bisa memuaskan dahaga dalam jiwanya. Lantas kemana gambarnya berlabuh? Mungkin ada yang mengirimnya ke forum fotografi, adapula yang menjualnya ke majalah, tetapi tidak sedikit yang hanya menyimpannya sendiri. Untuk alasan yang terakhir, maka orientasinya bisa digolongkan sebagai pelampiasan hasrat seni.

Nah itu tadi orientasi fotografi yang sudah kita bahas. Tentu penggolongan seperti di atas bukanlah sesuatu hal yang baku, melainkan lebih kepada upaya untuk memudahkan kita dalam mengenali orientasi para pengambil gambar.

Selanjutnya akan kita bahas mengenai jenis-jenis kamera yang ada di pasaran. Ada banyak sekali jenis kamera yang beredar dan membahasnya dalam satu artikel akan berpotensi membuat kita pening tanpa kita mendapat sesuatu yang bermanfaat.

Dilihat dari cara pengambilan gambar, kamera terbagi dalam tiga  golongan, yakni Analaog, polaroid  dan digital. Untuk itu, kali ini hanya akan dibahas kamera analog saja. Untuk kamera digital dan polaroid,  silahkan mengikuti rubrik ini selanjutnya, sambil memilihnya sebagai rubrik kesayangan anda di majalah online OUCHZINE, agar rubrik ini masih dianggap bermanfaat dan tidak di-remove oleh bapak Pemimpin redaksi (semoga Ja). Oke, langsung saja, pertama akan kita bahas jenis kamera analog.

analog kuno merk leica
analog kuno merk leica

Walau generasi masa kini banyak yang tidak mengenalnya, tetapi jangan salah, selama puluhan tahun, kamera jenis ini sempat merajai dunia fotografi. Pada era peralihan dari kamera analog ke kamera digital, antara tahun 2000an,  banyak pameo yang berkembang jika kamera digital hanya untuk main-main dan kamera analog adalah untuk sang profesional. Walau pameo itu sudah luntur seiring semakin menciutnya komunitas pemakai kamera analog, tetapi kamera jenis ini haruslah dianggap sebagai sebuah lompatan besar umat manusia menuju kepada peradaban seni dan teknologi yang memukau.

Lantas apa ciri khusus kamera analog? Benar, film. Film merupakan bahan mutlak dalam mencetak gambar, untuk kasus kamera analaog. Dalam banyak kasus, film ini juga memiliki banyak nama, antara lain klise dan negatif. Bentuknya tipis, mirip seperti plastik, berwarna hitam atau coklat serta transparan. Film atau negatif biasa diproduksi dalam bentuk roll.

Ketika citra diambil melalui lensa, maka citra tersebut akan tercetak dalam film. Nantinya, film inilah yang akan diolah lebih lanjut untuk dapat dipindah ke atas kertas foto. Proses ini pada umumnya disebut pencucian foto.  Proses pencucian foto sangatlah rumit. Dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi serta kejelian yang matang. Mengapa? Karena jika film atau negatif rusak, maka hilang sudah citra yang sudah diambil. Untuk lebih jelasnya akan diulas pada kesempatan mendatang.

Leica, memang luar binasa
Leica, memang luar binasa

Kembali ke kamera analog. Secara fisik, bentuknya tidak terlalu berbeda, hanya mungkin terlihat lebih kaku. Kamera ini terdiri dari tiga buah elemen utama, yakni elemen optikal (lensa), elemen kimia (film) dan elemen mekanik (mesin kamera). Karena memakai film sebagai media penyimpan citra, maka kamera ini membutuhkan jenis bukaan diafragma 1/f detik, agar cahaya yang ditangkap bisa diterima oleh film menjadi gambar.

analog yang cukup populer
analog yang cukup populer

Kamera jenis ini menjadi kamera standard, baik bagi mereka yang terjun di dunia fotografi jurnalistik, atau bagi mereka yang berkecimpung di dunia guide/wisata. Seiring dengan perkembangan jaman, kamera ini makin ditinggalkan, karena sistem pencucian gambarnya yang rumit, lama, merepotkan dan dianggap tidak efektif. Padahal, dibanding dengan kamera digital, kamera analog lebih bandel mesinnya. Cara membersihkan bagian dalam ataupun merakitnya juga tidak terlalu rumit.

Rumitnya mencuci film

cuci baju

oh salah, ternyata itu kegiatan mencuci baju, ini dia gambar yang bener terkait mencuci film

cuci

Itulah sekilas cerita mengenai kamera analaog. Di kesempatan berikutnya, kita akan membahas mengenai kamera polaroid dan  digital beserta varian-variannya. Sampai bertemu di edisi PCC berikutnya. Bagi anda yang merasa rubrik ini bermanfaat, silahkan beri komentar anda. Salam ouchziner!

Penulis : Eno Grovey

Editor : Tim Redaksi Ouchzine

Cover Girl at featured picture :Miia Watson Lautner