Misteri Kematian Friska


Halo semua, salam Ouchziner. Perkenalkan, nama saya Detektif Derry dan mulai hari ini, kalian semua bisa menikmati rubrik Selidik Kasus, yaitu rubrik dimana kalian bisa membaca berbagai petualangan saya selama menjadi detektif. Okey, langsung saja, untuk kesempatan kali ini saya akan menceritakan sebuah kisah misteri yang cukup menegangkan, apalagi bila membacanya sambil menonton foto Kim Kardashian.

Kisah ini adalah mengenai pembunuhan yang cukup sadis yang saya tangani sekitar satu tahun yang lalu di sebuah kota kecil di kawasan lereng Pegunungan Dieng yang dingin. Adapun nama sang korban adalah Friska, yang ternyata belum genap berumur sembilan tahun. Sungguh mengenaskan, di usia yang masih sangat muda, Friska harus tewas secara tragis. Ia meregang nyawa setelah kepalanya dihantam benda yang sangat keras, sehingga tulang tengoraknya retak. Setelah saya teliti lebih lanjut, ternyata hantaman benda keras di kepalanya itu membuat tulang tengkoraknya bergeser dan otaknya meleleh keluar, layaknya es krim di mulut Olla Ramlan, ehmmm….

Mau Donk Jadi Es Krimnya

Mau Donk Jadi Es Krimnya

Kejadian memilukan itu diperkirakan terjadi pada saat subuh, yakni sekitar pukul 3 sampai 4 pagi. Saksi terakhir, Walgijan, seorang petugas hansip desa, menuturkan ia terakhir melihat Friska di depan restoran sea food milik Wagiran, seorang yang cukup kaya dan memiliki empat orang istri yang cantik-cantik.

Tempat penemuan mayat Friska sendiri juga letaknya tidak terlalu jauh dari restoran sea food tersebut. Insting detektif saya langsung aktif. Dengan pengalaman lebih dari sepuluh tahun menemani Sherlock Holmes sebagai tukang kebun membuat saya tidak begitu kesulitan menyusun perkiraan kronologis kejadian.

Pada sekitar pukul 4 pagi, Friska datang ke restoran sea food tersebut. Kemungkinan besar untuk mencuri ikan-ikan segar. Friska memang sering melakukan hal ini. Menurut data, pada saat kejadian, di restoran tersebut hanya ada dua orang, yakni Wagiran dan istri ketiganya, yakni Sutirah, seorang sales MLM.

Mungkin hari itu, adalah hari sial bagi Friska. Upayanya untuk mencuri ikan ketahuan pasangan suami istri tersebut. Karena kalap, Wagiran kemudian mengambil sebuah tongkat besi atau semacamnya dan memukul kuat-kuat ke kepala Friska.

Friska gagal mengelak. Hantaman di kepalanya tersebut lalu membuatnya terkejut dan lari melompat jendela. Sayangnya, baru dua ratus meter, ia ambruk. Kepalanya retak dan darah serta cairan otaknya mengucur deras, memenuhi wajahnya. Esoknya warga pun menemukan wayat Friska di sana.

Ketika saya mengkonfrontasikan hal ini bersama Wagiran di rumahnya, ia takjub bukan kepalang. Dengan senyum mengembang dan sesekali menyedot rokok kreteknya, ia mengangguk-angguk dan membenarkan segala perkiraan kronologis saya. Kemudian kamipun menikmati sajian andalan dari restoran sea food-nya, yakni ikan bakar bumbu rendang. Setelah puas berbincang-bincang kamipun pergi ke seberang jalan tempat mayat Friska berada. Seorang pengguna jalan yang merasa terganggu ternyata telah  menyingkirkan mayat naas itu ke sisi kanan bahu jalan.

Dengan sebuah tas plastik hitam, saya mengambil mayat Friska dan menyerahkannya kepada Wagiran. Beliau berjanji akan memberikan penguburan yang layak untuk Friska, dan berharap kucing hitam liar yang sudah meresahkan banyak warga karena sering mencuri ikan itu  bisa tenang di alamnya.

Mayat Friska

Mayat Friska

Itulah kisah misteri yang akhirnya berhasil saya pecahkan. Masih terasa di lidah saya lezatnya  ikan bakar bumbu rendang dari restoran bapak Wagiran.  Jikalau kalian merasa ada kejanggalan dengan kisah ini, silahkan memberi komentar. Sampai jumpa di kisah misteri selanjutnya hanya di rubrik yang misterius, menegangkan dan menghibur, Selidik Kasus bersama saya,  Detektif Derry. Salam Ouchziner.

Mengungkap Hilangnya Anna Widyawati


Halo pembaca setia Ouchzine, bertemu kembali dengan saya dalam rubrik Selidik Kasus. Di sini, kalian bisa menikmati berbagai kisah petualangan saya yang sudah malang melintang di dunia kriminalitas. Untuk  edisi kedua ini, saya akan membeberkan sebuah kasus yang cukup menghebohkan keluarga konglomerat Hardjono, yakni mengenai hilangnya Anna Widyawati.

Kisah ini dimulai ketika pada suatu sore yang tenang, saya sedang termenung sendirian di kantor. Untuk membunuh bosan, maka saya melakukan sebuah kegiatan yang mampu me-refresh otak saya, tetapi tetap bernuansa intelek. Saya membaca majalah dewasa.

kapan bisa kawin sama yang beginian

kapan bisa kawin sama yang beginian

Ketika sampai pada halaman model-model membanggakan tanah air, telepon berdering. Dari ujung sana,  bapak Hardjono, pengusaha batu bara yang cukup ternama, menceritakan kasusnya. Dia berkata bahwa menantunya, Anna Widyawati hilang tiga hari yang lalu. Saya langsung bergerak cepat. Dengan naik bis kota, dalam waktu empat jam, saya sampai di kediaman keluarga Hardjono.

Dari sana saya disambut oleh Bapak Hardjono, Lukman, seorang gadis pelayan nan jelita,  dua orang bodyguard menakutkan bertubuh gempal, dan sepiring nasi goreng Hongkong lengkap dengan kopi Luwak yang terkenal itu. Sebenarnya saya tidak suka kopi, karena perut saya akan langsung bereaksi. Tetapi begitu tahu ini kopi mahal dan belum tentu dalam sepuluh siklus kehidupan nanti bisa menikmatinya, saya langsung menyantapnya.

Kemudian saya  memulai penyelidikan. Anna terakhir diketahui sedang di kamar bersama dengan Lukman Hardjono, pacar sekaligus anak tunggal dari Bapak Hardjono. Wanita seksi  berambut pirang itu sedang asyik membaca sebuah majalah. Lalu tiba-tiba dari dalam jendela, muncul dua orang perampok bersenjata yang masuk kekamar, melukai kening dari Lukman Hardjono, mengambil beberapa perhiasan yang ada di atas meja, dan kabur sambil menculik Anna.

Tiga hari kemudian, atau tepatnya pagi tadi, sang penculik mengatakan bahwa Anna tidak akan mungkin selamat. Mendengar itu, pertama-tama yang saya lakukan adalah menyelidiki tempat kejadian perkara, yakni di kamar Lukman. Sebagai sebuah kamar pria, tempat ini sungguh mencurigakan, karena tidak ada poster wanita telanjang. Sungguh mengherankan bila dibanding dengan kamar  saya.

Jendela kamar yang merupakan akses keluar masuk dari sang penculik juga tak luput dari pantauan saya. Serpihan kaca-kaca yang masih berserakan, dibiarkan tanpa disentuh. Juga masih ada bercak darah, yang katanya darah dari Anna, karena tergores bekas beling-beling jendela. Di atas meja, ada bagian yang sudah diberi tanda dengan kapur, yakni tempat terakhir perhiasan yang akhirnya digasak dua orang perampok.

“Bagaimana, Detektif? Apa sudah ada titik terang?”, Bapak Hardjono bertanya.

Mendengar itu, dahi saya langsung berkerut, mata sedikit mencekung serta wajah saya sedikit memerah. Kemudian saya langsung ijin ke toilet, sebelum sisa kopi dan nasi goreng tadi keluar di celana. Setelah puas dengan proses pembuangan sempurna saya, saya langsung menuju ke kerumunan keluarga Hardjono. Ternyata di sana sudah ada banyak sekali awak media. Mereka sedang menunggu komentar saya, detektif kenamaan yang sudah pernah memiliki pengalaman membantu Sherlock Holmes sebagai tukang kebun.

“Dengan sangat menyesal, saya harus mengatakan bahwa saya belum menemukan petunjuk yang berarti.” Kontan saja para awak media menjadi sedih. Ini tak lain karena mereka sangat kehilangan atas sosok Anna Widyawati, calon istri Lukman Hardjono yang hampir setiap hari menjadi bahan santapan infotaiment. Wajah Lukman dan Bapak Hardjono juga tertunduk, walau masih tampak tenang.

Begitu awak media pergi, kami bertiga berkumpul di ruang tengah. Lukman membuka suara memecah keheningan.

“Jadi Detektif Derry tidak bisa menemukan petunjuk? Berarti ini adalah kasus pertama yang tidak bisa dipecahkan oleh Detektif?”, katanya dengan pandangan sedikit menusuk.

Setelah menghembuskan asap rokok ke atas sambil terbatuk-batuk, saya pun membuka suara. “Andaikan saya berhasil mengungkapnya, pasti Mas Lukman akan sangat kecewa dan kerepotan, khan?”

“Apa maksud Detektif?” seru Lukman salah tingkah.

“Sudahlah Lukman, sejak sebelum engkau menjelaskan permasalahannya, Detektif Derry pasti sudah mengerti apa dan bagaimana semua ini. Justru kita harus berterima kasih atas bantuan Detektif Derry”, seru Bapak Hardjono.

“Tidak apa-apa Om, saya mengerti. Baiklah, kalau dek Lukman memaksa, saya akan menceritakan kemungkinan kronologisnya”.

“Kalian sedang melakukan sesuatu di kamar ini, lalu kemudian dua orang muncul, bukan dari luar jendela, melainkan dari luar kamar. Mereka masuk menggunakan pintu seperti biasa, dan mugkin membawa martil atau semacamnya. Mereka memecahkan kaca jendela dari dalam, lalu menyapu serpihan belingnya ke bagian luar jendela. Ada darah di jendela yang pecah, dan itu pasti bukan darah Anna. Mengapa? Karena saya tidak yakin anda tega pahanya tergores barang satu mikrometer pun. Setelah itu dua orang tadi, yakni kedua bodyguard anda mengambil beberapa perhiasan yang tidak penting dan meniggalkan sidik jari palsu di sana?”

“Jadi Detektif menuduh kami merekayasa penculikan Anna?” Lukman kaget.

“Bukan merekayasa, mungkin lebih tepatnya menyelamatkan Anna. Kalian takut masa lalu Anna yang kelam sebagai bintang film porno akan terungkap dan menjadi bulan-bulanan media, lalu kalian menyembunyikan Anna untuk selamanya. Setelah itu, mungkin kemudian Lukman akan menikah dengan pelayan yang seksi dan cantik itu. Andaikan dia berambut pirang, pasti ia akan nampak lebih cantik”.

Semua pun langsung bertepuk tangan. Kemudian setelah menyantap sup iga sapi dan air putih, saya difasilitasi oleh keluarga Hardjono untuk berlibur ke Bali selama tiga bulan, sampai Lukman menikah dengan Widya Hannawati. Pernikahan mereka mendapat sorotan publik, karena Widya ternyata adalah pelayan keluarga Hardjono.

Itulah misteri hilangnya Anna Widyawati alias Widya Hannawati, yang hingga kini belum ditemukan.  Sedang sampai sekarang saya masih mencari majalah dewasa yang saya tinggalkan di kantor. Mungkin majalah itu senasib dengan Anna, yang sebenarnya adalah bintang film favorit saya.

Hanna Widyawati

Hanna Widyawati

Sekian untuk rubrik Selidik Kasus kali ini, sampai berjumpa di edisi berikutnya. Ada yang mau membahas mengenai Anna Widyawati? Silahkan berkomen…