Gambar

SALAHKAH AKU BILA MENCINTAI MAMAHMU?


Dear diarry, gue lagi galau nih.

Hari ini hari Senin. Eh salah, hari ini hari Selasa dan seperti biasa gue maen basket di lapangan deket masjid. Biasanya jam segitu udah pada rame anak-anak, tapi ini sebijipun kaga ada. Akhirnya daripada gue balik dan disuruh nyokap cuci piring atau kasih makan Clara, anjing herder gue, gue nekat maen basket sendiri. Lumayan sih, udah cukup nggos-nggosan setelah mendribel bola selama tujuh menit. Keringat yang bercucuran membuat kaus singlet putih gue basah. Dengan keadaan berbasah-basah ini, gue ngadem di bawah pohon mangga sambil ngebayangin bisa dibelai-belai sama Sissy Prisscila atau dipijitin sama seluruh personel JKT48.

Karena keringat terus bercucuran dari dahi gue dan kaos gue makin banyak, akhirnya dengan pede gue lepas tuh kaos lalu tiduran di bawah pohon mangga dengan bertelanjang dada. Angin sore yang sepoi-sepoi membuat gue nyaris ketiduran. Hampir aja gue tidur beneran ketika tiba-tiba gue dengan sebuah jeritan histeris. Gue langsung terhenyak.

Ternyata jeritan itu bersumber dari seorang wanita nan cantik yang sedang terjatuh dari sepeda gunungnya. Setelah menyakinkan diri kalau itu benar-benar wanita, gue langsung berniat menolong. Gue samperin dia dan mencoba membantunya berdiri.  Ternyata dia jatuh karena mencoba menghindari ayam yang akan menyeberang. Sungguh mulia. Gue berniat membopongnya dan mengajaknya duduk berdua di bangku taman, tetapi wanita itu menolak. Dengan tatapan yang sayu khas Kristen Dunst, dia berterima kasih sama gue.

Walaupun kejadian itu tidak lebih dari dua menit, tetapi ada semacam sengatan listrik yang hanya bisa terjadi kalau gue lagi jatuh cinta. Dan gue semakin yakin kalau gue bener-bener jatuh cinta. Wajahnya yang lembut, rambutnya yang panjang terutai serta tatapannya yang menusuk relung hati, membuat gue hanyut dalam buaian asmara. Walau gue tau dia lebih tua dari gue, tapi hey, bukankah cinta tidak memandang usia? Kisah cinta sejati seperti roman asmara Syeh Puji atau skandal cinta Lutfi Hasan sang presiden PKS sudah membuktikan bahwa usia tidak menjadi masalah. Walau dalam versi gue, si cewek yang tampak lebih dewasa.

Begitu dia pergi berlalu dari gue, tetap tatapan mata ini tak bisa lepas darinya. Goyangan pantat terakhir di atas sadel sepeda itu menjadi momen perpisahan antara gue dengan dirinya.

Satu jam sudah berlalu sejak perjumpaan gue dengan bidadari misterius tersebut. Begitu gue sampai rumah, ternyata ada Jordan, sohib kuliah gue. Jordan ini, walaupun statusnya mahasiswa tapi lebih suka dipanggil preman pasar. Ototnya yang mirip seperti kabel telpon serta tatonya yang ada du seluruh punggungnya membuat gue nyaman kalo harus naik bus dan lupa ga bawa dompet.

“Sial, Jay, lu harus ikut gue!”

“Hey, ada apa boy?”

“Ada yang berani nantangin gue soalnya. Lu harus bantu gue cari orangnya!”

“Ha? Nantang elu? Mungkin orang gila kali. Udah ga usah dipikirin”

“Yee, sebenarnya dia ga nantang gue. Dia godain emak gue. Berarti kan sama kayak nantang gue!”

“Apa, godain emak lu? Emang siapa orangnya. Harus dibuat jadi rujak itu orang. Udah ayo kia hajar aja!”

“Good, lu emang temen baik gua”

Gua heran, orang gila mana sih yang berani cari perkara sama si Jordan? Ga tau apa, preman kampung sebelah aja belum keluar dari ICU setelah diberi bogem ma dia gara-gara lewat rumahnya pake ngebut. Ini malah godain emaknya Jordan.

“Emang orang mana boy?”

“Ga tau gua, tapi kata emak gua, dia orang sini, soalnya maen basket di lapangan deket masjid. Mana dia godain emak gue pake acara pamer dada ma perut lagi?”

“Wah kurang ajar tu orang. Eh tapi tadi gue dari sana deh keliatannya. Mang kejadiannya kapan?”

“Barusan, sekitar sejam yang lalu, makanya gua kesini. Lu kan orang sini, sapa tau aja lu kenal. Oke brada, kita kesana sekarang?”

“Okey, eh bentar, mang emak lu kayak apa sih?”

“Ya kayak emak-emak lah. Tadi lagi maen sepedaan, trus karena oleng, dia jatuh. Eh datang kutukupret itu. Kata emak gue, dia ga cuma pelototin emak gue aja, tapi pake acara ga pake baju segala and mau pegang-pegang emak gue gitu. Pokoknya kita harus hajar dia!”

“Eh…..ehm….ehmmm……gitu ya… aduh ni kenapa ni, aduh kepala gue pusing, aduh migrain gue!”

“Napa lu?”

“Ga tau nih, kayaknya gue sakit banget deh. Aduh pusing nih”

“Yaelah, ya udah, lu tidur aja”

“Ga apa-apa kan sob?”

“Ya ga papa lah. ntar lok dah ketemu orangnya, gua ceritain ya..”

“Okey. Eh btw, kata mamah gue, kita harus saling memaafkan lo. Ya udah deh, selamat apa aja ya, gua ke kamar dulu, mau hibernasi. Bangunin gua kalo dah tahun baru ya?”

Jordan, aku tahu kamu emang sahabatku, tapi aku ga mau menyakitin kamu. Okelah, demi kamu aku akan melupakan emakmu.

(galau….)

Menganalisa Kekuatan K-POP


Beberapa tahun yang lalu masyarakat Indonesia dibuat geram oleh kelakuan negara tetangga kita yang mengklaim beberapa hasil budaya kita. Tidak bisa dipungkiri memang ada negara-negara yang melakukan klaim secara sewenang-wenang terhadap budaya dari negara lain, demi meraih berbagai keuntungan, diantaranya menaikkan prestise dan menggenjot sisi kepariwisataan.

Untuk itulah, mutlak diperlukan sebuah kesadaran dari seluruh warga bangsa untuk turut melindungi, melestarikan dan mengembangkan budaya leluhur. Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka negara kita akan semakin harum namanya sebagai negara yang berbudaya dan menarik banyak wisatawan.

Apalagi adalah suatu kenyataan yang tidak terbantahkan bila  Indonesia memang dikenal kaya akan hasil kebudayaan. Sangat ironis jika kita sebagai warga negara Indonesia tidak menjaga,melestarikan serta mengembangkan kebudayaan sendiri, lalu kemudian baru bersuara lantang ketika ada negara lain yang  mulai mengklaimnya.

Di tengah usaha dan upaya untuk melestarikan kekayaan budaya, kita melihat kenyataan yang cukup kontradiktif, di mana saat ini anak-anak muda, yang notabene sebagai penerus bangsa, lebih menyukai budaya dari luar negeri.  Well,  sungguh kontradiktif memang tapi itu lah yang terjadi. Contoh yang paling nyata adalah demam K-Pop yang dalam tiga tahun belakangan ini menjangkiti generasi muda Indonesia.

Mengapa K-Pop yang notabene adalah produk budaya dari negeri ginseng Korea mampu menjadi sesuatu yang begitu digemari? Ada beberapa alasan, antara lain tampilan dan sajian dari K-Pop yang terlihat jauh lebih “keren” bagi mereka ketimbang kebudayaan negeri sendiri. Apalagi, khusus untuk lagu dan film-film Korea, banyak anak muda yang merasa para artis dari Korea itu jauh lebih menarik secara fisik.

csri 1000 perbedaannya

cari 1000 perbedaannya

Memang artis Korea dikenal sangat cantik. Ga percaya, lihat tiga artis paling cantik asal Korea  berikut

1. Kim Nana

bukan Kim Jong Un ya

bukan Kim Jong Un ya

Atau yang ini

2. Yoona

Itu boneka atau manusia ya?

Itu boneka atau manusia ya?

Tapi ini yang paling cakep

3. Siwon

Ciiittt Cuiiitttt

Ciiittt Cuiiitttt

Banyak anak-anak muda yang suka begitu tergila-gila dengan para personel girl/boy band asal Korea, sehingga mempengaruhi life style mereka. Kita ambil contoh “Gangnam Style.  Lagu dan tarian khas yang begitu mendunia itu, juga sempat menjadi primadona di Indonesia. Videonya meledak hanya satu hari setelah di-upload di Youtube. Jutaan orang terkesima dengan koreografinya yang unik dan melodinya yang kompak. Mulai dari tarian kudanya yang aneh tapi asyik hingga musik yang mudah mengalir di telinga menjadikannya salah satu video yang banyak diunggah oleh pengguna Youtube.

Batman aja cemburu sama PSY

Batman aja cemburu sama PSY

Belum lagi mengenai girl band atau boy band-nya. Bahkan mungkin tidak sedikit abg Indonesia yang lebih hafal para personel SNSD ketimbang para pahlawan yang gugur membela negara. Apakah hal itu salah? Tergantung dari sudut pandang apa kita melihatnya, yang jelas K-Pop harus diakui sebagai sebuah produk budaya yang memang luar biasa.

Lantas, mengapa K-Pop begitu cepat berkembang? Mengapa Indo-Pop seakan merasa minder jika disandingkan dengannya? Oke, mari kita melihat sejauh mana kakuatan dari produk budaya asal negeri Lee Myung Bak itu

1. Unik dan kreatif

Tidak ada satupun yang bisa membantah jika para seniman Korea memang sangat unik dan kreatif. Para girl band dan boy band-nya mampu menampilkan sesuatu yang berbeda, jika dibandingkan dengan grup musik dari negara lain, Inggris atau Amerika misalnya.

2. Mampu menjangkau banyak kalangan

K-Pop juga bukan hanya melulu didominasi oleh musik pop. Di sana juga ada jazz, rock altenativ, rap dan sebagainya. K-Pop juga mampu menembus sekat-sekat usia, sehingga walaupun pangsa pasar mereka adalah remaja, tetapi tak jarang banyak orang dewasa dan anak-anak yang menggemarinya.

before and after

before and after

3. Sangat variatif

K-Pop juga bukan melulu musik. Ada tarian, fashion, dan life style di sana. Bahkan, perkembangan popularitasa bahasa Korea kabarnya juga makin melejit seiring dengan makin berkibarnya K-Pop

si gendud yang kaya raya

si gendud yang kaya raya

4. Promosi dan managemen yang luar biasa

Inilah kuncinya. Kebangkitan budaya K-Pop, yang terbilang terlambat bila dibanding dengan budaya dari Jepang, Thailand atau Korea, mampu ditebus dengan keseriusan dari agen dan stake holder di sana. Bukan dalam waktu singkat, K-Pop mampu meraih tingkat populeritas seperti ini. Ada suatu persiapan yang matang dan luar biasa di sana.

Akankah Indonesia mampu memiliki suatu terobosan untuk menyaingi K-Pop,setidaknya di tanahnya sendiri? Atau K-Pop akan semakin berkibar, kemudian di susul dengan culture asing lainnya? Tanyakan pada Jupe yang bergoyang…

i love my culture

i love my culture

Penulis :

Trio Pamungkas Trio

Editor :

Tim Redaksi Ouchzine