Ukraina, Di tengah Kepungan Barat Dan Rusia


krisis-ukraina-330x200

 

Amerika Serikat dan sekutunya kembali menunjukkan sikap imperialismenya. Dengan iming-iming bantuan berupa pinjaman yang sangat besar, mereka menumbangkan pemerintahan sah Ukraina pimpinan Viktor Yanukovych dan menggantinya dengan rezim boneka. Demonstrasi yang berujung pada tindakan makar telah membuat negeri di tepi Laut Hitam itu kolaps, dan kini berada dalam cengkeraman perang saudara.

Viktor Yanukovych memang salah satu dari sedikit pemimpin Ukraina masa kini yang dengan langkah berani, mengambil jarak dengan Uni Eropa, walau diimingi-imingi kredit lunak. Baginya, kedaulatan bangsa Ukraina jauh di atas tumpukan uang dolar yang sebenarnya dapat menjadi jerat di kemudian hari.

Viktor juga adalah pemimpin kharismatik Ukraina. Dengan dukungan penuh Partai Wilayah, partainya, ia melenggang menjadi pemimpin negeri Ukraina. Tapi, dengan menggerakkan para bandit yang menyaru sebagai tokoh oposisi, intelejen Amerika Serikat dan Eropa Barat berhasil menggerakkan massa untuk melakukan kudeta berdarah atas pemerintahan yang sah.

Kini, Kiev telah jatuh. Ukraina pun tinggal menunggu hari untuk semakin larut dalam arus hegemoni Uni Eropa. Mirip seperti Indonesia ketika Suharto muncul menggeser kekuatan Bung Karno, Amerika Serikat dan Barat menjanjikan bantuan finansial akan mengalir deras. Tentu itu semua tidak gratis. Ada harga yang jauh lebih mahal yang harus dibayar oleh rakyat Ukraina kelak. Dan Viktor tahu itu. Untuk itulah dia menolak menyerah.

Krimea jatuh

Situ berita berbasis di Jerman memberitakan, para simpatisan dan “gerombolan bersenjata” pro-Viktor Yanukovich telah merebut Republik Krimea, sebuah wilayah otonom Ukraina. Penegakan ketertiban atas nama pemerintahan Ukraina yang sah terjadi.

Sekitar 50 tentara tanpa identitas, yang diduga dari kelompok patriotik Ukraina, berhasil menduduki beberapa tempat penting di Krimea. Republik Kriema merupakan basis dari pendukung Pro-Kremlin. Pendudukan itu berlangsung damai, jauh dari pertumpahan darah. Kelompok militer itu kemudian mengibarkan bendera Rusia. Parlemen setempat pun berencana untuk menggelar referendum, untuk menentukan nasib Republik dengan mayoritas warga keturunan Rusia tersebut.

Viktor Yanukovych paham benar, bahwa barat tidak memperdulikan nasib bangsa Ukraina. Mereka lebih peduli pada uang dan kekayaan negaranya. Untuk itu, pemimpin Partai Wilayah ini berniat akan terus bertarung untuk membebaskan negaranya dan mengusir para bandit bayaran Uni Eropa.

1948233_537353233030726_2137711044_n

Rusia dan perebutan kepentingan

Tidak dipungkiri, Rusia juga memainkan peranan penting. Negeri beruang merah tentu akan merasa harga dirinya diusik jika Ukraina jadi bergabung dengan Uni Eropa. Terlihat sekali bagaimana politik regional bermain disini. Sebagai “kakak”, Rusiapun juga merasa bertanggung-jawab atas nasib jutaan bangsa Ukraina pro-Kremlin.

Kini, dengan invasi terselubung Rusia, maka pijar-pijar kecil perang telah menyala. Opisisi dan militer Ukraina mungkin sangat terkejut, karena nyatanya Rusia tidak peduli pada ancaman Barat. Mungkin kini mereka justru ragu, apakah Barat berani membela mereka jika memang harus terpaksa bertempur dengan Rusia. Selain itu, di berbagai wilayah, rakyat pro-Moskow juga sudah mulai bergerak.

Akankah Ukraina terbelah? Atau berhasilkah Viktor Yanukovych, yang kini berada di Rusia, merebut kembali Kiev? Mungkinkah barat berani menalakukan aksi militer, jika Rusia lebih dahulu menginvasi tetangganya itu? Hanya waktu yang bias menjawab.

Iklan

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s